Bursa Taruhan Pasar Prediksi Meledak di Piala Dunia, Kalshi Klaim Bukan Sportsbook
Gelaran Piala Dunia 2026 menjadi panggung besar bagi platform pasar prediksi Kalshi setelah membukukan nilai transaksi fantastis mencapai USD 40 miliar atau sekitar Rp 600 triliun. Angka ini melampaui estimasi pendapatan sportsbook konvensional seperti DraftKings dan FanDuel yang diperkirakan hanya meraup USD 4 miliar untuk seluruh pertandingan.
Manajemen Kalshi menegaskan bahwa layanannya merupakan produk finansial terlarang yang terintegrasi di tingkat federal, bukan tempat perjudian biasa. Di platform ini, pengguna bertaruh melawan satu sama lain tanpa melibatkan "bandar" internal, di mana Kalshi hanya mengambil komisi transaksi dari setiap taruhan.
"Sama seperti pasar saham, Anda dapat keluar dari posisi Anda kapan saja. Ini adalah platform yang lebih adil dan tidak eksploitatif," ujar juru bicara Kalshi, Elisabeth Diana.
Namun, pakar ekonomi dari College of the Holy Cross, Victor Matheson, menilai tidak ada perbedaan mendasar antara pasar prediksi dan perjudian. "Dari sudut pandang petaruh, Kalshi dan sportsbook pada dasarnya identik. Saya tidak melihat alasan mengapa mereka harus diatur dan dipajaki secara berbeda," terangnya.
Hingga kini, beberapa negara bagian di Amerika Serikat seperti Minnesota dan Massachusetts telah memblokir operasional Kalshi atas dugaan penyelewengan pajak daerah, sementara proses hukum tingkat tinggi diperkirakan akan berlanjut ke Mahkamah Agung.
Artikel Lainnya
Maraknya penggunaan obat penurun berat badan GLP-1 mendorong Burger King untuk mengadaptasi strategi bisnisnya. Raksasa ...
Harga minyak mentah internasional melonjak hampir 5 persen pada Rabu setelah pemerintah Amerika Serikat mengecilkan pelu...
Produsen obat asal Denmark, Novo Nordisk, resmi melayangkan gugatan hukum terhadap rival utamanya asal Amerika Serikat, ...
Serial podcast ternama NPR, Planet Money Summer School, resmi kembali hadir musim ini dengan fokus menjelajahi gagasan e...
Laporan terbaru West Health-Gallup Center menunjukkan lonjakan fenomena 'job lock', di mana hampir seperempat pekerja be...