Kamis, 23 Juli 2026

Bursa Taruhan Pasar Prediksi Meledak di Piala Dunia, Kalshi Klaim Bukan Sportsbook

Platform pasar prediksi Kalshi mencatatkan lonjakan transaksi fantastis hingga USD 40 miliar selama gelaran Piala Dunia. Meski memfasilitasi taruhan olahraga skala besar, perusahaan menolak diidentifikasi sebagai situs perjudian atau sportsbook.

Gelaran Piala Dunia 2026 menjadi panggung besar bagi platform pasar prediksi Kalshi setelah membukukan nilai transaksi fantastis mencapai USD 40 miliar atau sekitar Rp 600 triliun. Angka ini melampaui estimasi pendapatan sportsbook konvensional seperti DraftKings dan FanDuel yang diperkirakan hanya meraup USD 4 miliar untuk seluruh pertandingan.

Manajemen Kalshi menegaskan bahwa layanannya merupakan produk finansial terlarang yang terintegrasi di tingkat federal, bukan tempat perjudian biasa. Di platform ini, pengguna bertaruh melawan satu sama lain tanpa melibatkan "bandar" internal, di mana Kalshi hanya mengambil komisi transaksi dari setiap taruhan.

"Sama seperti pasar saham, Anda dapat keluar dari posisi Anda kapan saja. Ini adalah platform yang lebih adil dan tidak eksploitatif," ujar juru bicara Kalshi, Elisabeth Diana.

Namun, pakar ekonomi dari College of the Holy Cross, Victor Matheson, menilai tidak ada perbedaan mendasar antara pasar prediksi dan perjudian. "Dari sudut pandang petaruh, Kalshi dan sportsbook pada dasarnya identik. Saya tidak melihat alasan mengapa mereka harus diatur dan dipajaki secara berbeda," terangnya.

Hingga kini, beberapa negara bagian di Amerika Serikat seperti Minnesota dan Massachusetts telah memblokir operasional Kalshi atas dugaan penyelewengan pajak daerah, sementara proses hukum tingkat tinggi diperkirakan akan berlanjut ke Mahkamah Agung.

Redaksi Rafael Ribeiro
Redaksi Rafael Ribeiro
Tim redaksi Rafael Ribeiro News yang menyajikan berita terkini dan terpercaya dari berbagai bidang.
Redaksi Rafael Ribeiro adalah tim jurnalis profesional yang berdedikasi untuk menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya dari berbagai bidang. Tim redaksi bekerja dengan kode etik jurnalistik yang ketat dan selalu mengutamakan kepentingan publik dalam setiap pemberitaan.