Efek Obat Diet Marak, Burger King Siapkan Menu Ukuran Mini dan Tinggi Protein
Tren penggunaan obat penurun berat badan golongan GLP-1 mulai merubah pola konsumsi masyarakat di Amerika Serikat secara signifikan. Menanggapi fenomena ini, Burger King mengambil langkah antisipatif dengan menyiapkan strategi menu baru guna menjaga relevansi bisnisnya di masa depan.
Presiden Burger King Amerika Serikat dan Kanada, Tom Curtis, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang melakukan uji coba menu seperti Whopper Bites dan pilihan mangkuk tinggi protein. Langkah ini diambil untuk mengakomodasi konsumen yang ingin mengonsumsi kalori lebih sedikit namun tetap menikmati makanan cepat saji.
"Impuls saya selalu mengatakan bahwa pergerakan GLP-1 ini akan memberikan dampak mendalam bagi industri. Yang penting bagi kami adalah memiliki semua variasi dan inovasi dalam kemasan yang lebih kecil," ujar Tom Curtis.
Survei Gallup pada Juli menunjukkan 11 persen orang dewasa AS menggunakan obat GLP-1, naik hampir empat kali lipat dibanding dua tahun lalu. Selain itu, riset William Blair mencatat 72 persen pengguna obat diet tersebut secara spesifik mengurangi konsumsi hamburger.
Analis JPMorgan memperkirakan lonjakan penggunaan GLP-1 dapat memangkas pendapatan industri makanan dan minuman hingga 30 miliar hingga 55 miliar dolar AS per tahun pada 2030. Meskipun demikian, Burger King tetap mencatatkan pertumbuhan penjualan toko yang sama sebesar 5,8 persen pada kuartal pertama tahun ini.
Artikel Lainnya
Platform pasar prediksi Kalshi mencatatkan lonjakan transaksi fantastis hingga USD 40 miliar selama gelaran Piala Dunia....
Harga minyak mentah internasional melonjak hampir 5 persen pada Rabu setelah pemerintah Amerika Serikat mengecilkan pelu...
Produsen obat asal Denmark, Novo Nordisk, resmi melayangkan gugatan hukum terhadap rival utamanya asal Amerika Serikat, ...
Serial podcast ternama NPR, Planet Money Summer School, resmi kembali hadir musim ini dengan fokus menjelajahi gagasan e...
Laporan terbaru West Health-Gallup Center menunjukkan lonjakan fenomena 'job lock', di mana hampir seperempat pekerja be...